Dan pembicaraan yang seharusnya tak perlu dibicarakan sekarang mengalir begitu saja antara saya dan dia. Seperti yang saya duga, dia tak cukup mental untuk menerima perbedaan. Dia memasukkan segala perkataan dan pendapat orang ke dalam pikirannya. Dan yang paling menyakitkan, dia tidak yakin dengan saya. Sementara saya terbiasa dengan perbedaan, dan bodohnya saya menaruh yakin dan harap padanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar